Jumat, 14 Januari 2011

ANALISIS KANDUNGAN NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER



     1.      Sinopsis Cerita
Berasal dari sebuah perkampungan nelayan di Pantura, Gadis Pantai baru berusia empat belas tahun dan belum menstruasi ketika seorang priyayi Jawa, pembesar santri setempat, mengambilnya sebagai istri percobaan. Ya, istri percobaan sebelum ia mengambil istri “sebenarnya” yang datang dari kalangan yang sederajat. Dan Gadis Pantai bukanlah yang pertama yang mengalaminya. Di rumah si Bendoro (priyayi itu), Gadis Pantai diajari sholat dan banyak hal lainnya yang terkait dengan gaya hidup para priyayi.
Tentu saja ada yang tak suka dengan keberadaan Gadis Pantai di rumah Bendoro, terutama dari keluarga besar si Bendoro sendiri. Mereka mengharapkan Bendoro secepatnya mengambil istri yang sederajat. Seorang Bendoro Demak yang menginginkan putrinya kawin dengan si Bendoro akhirnya mengutus Mardinah untuk menghabisi Gadis Pantai, dengan imbalan Mardinah akan diangkat menjadi istri kelima. Rencana dilaksanakan ketika Gadis Pantai pulang ke rumahnya di pinggir pantai, namun gagal. 
Gadis Pantai kemudian hamil. Dan kemudian ia melahirkan seorang bayi perempuan. Tapi 3 bulan kemudian, Gadis Pantai “diceraikan”, dan dipulangkan dengan paksa, serta anaknya harus ditinggal di rumah Bendoro. Dengan hati hancur Gadis Pantai meninggalkan anaknya di rumah si Bendoro. Malu dengan keadaannya yang tak bersuami, tak punya rumah, dan anaknya dirampas Bapaknya sendiri, Gadis Pantai memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halamannya sendiri. Tapi ia berbelok ke selatan, ke Blora. Selama sebulan setelah kepergiannya, ia selalu mengawasi keadaan rumah si Bendoro. Namun setelahnya, ia tak kelihatan lagi.

2.      Latar Belakang Pengarang
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara—sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun dalam penjara Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969, pulau Nusakambangan Juli 1969-16 aguatus 1969, pulau Buru Agustus 1969-12 November 1979, Magelang/Banyumanik November-Desember 1979) tanpa proses pengadilan.
Pada tanggal 21 Desember 1979, Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G 30 S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara, sampai 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih satu tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca).
Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun dari menulis. baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dibakar.
Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional. sampai kini, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
            Pramoedya telah menghasilkan belasan buku, baik kumpulan cerpen maupun novel. Pengalaman dipenjara dan pengalaman terampasnya hak dan kebebasan menjadikan karya-karyanya banyak memperjuangkan tentang  nasib perjuangan rakyat kecil, seperti juga dalam novel Gadis Pantai.
Pramoedya pernah menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang merupakan underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI) karena itulah karya-karya Pramoedya banyak mengusung aliran realisme-sosialis yang merupakan nafas para Marxis ketika berkarya.
Pengaruh realisme sosialis jelas bukan sesuatu yang mengada-ada, sebab Pramoedya sendiri kerap mengungkapkan antusiasmenya terhadap aliran tersebut. Ia antara lain pernah menulis makalah dalam kesempatan memberikan prasaran untuk sebuah seminar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tanggal 26 Januari 1963, dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia.
Aroma realisme sosialis sangat terasa dalam novel Gadis Pantai. Aliran realisme merupakan teori seni yang mendasarkan antara kontemplasi diaklektik antara seniman dan lingkungan sosialnya. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakikat realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana penyadaran bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagi manusia yang terasing (teralienasi menurut istilah Marxis) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.
Dalam novelnya ini, Pramoedya mengusung perlawanan terhadap feodalisme Jawa. Hal ini dinyatakan dalam bentuk kehidupan si Gadis Pantai yang berasal dari kelas remdah dan kemudian dinikahi oleh pembesar. Penyadaran-penyadaran akan nasib kaum teralienasi itu disampaikan Pramoedya dalam bentuk narasi-narasi yang menceritakan ketertekanan gadis pantai menjalani hidupnya di bawah bayang-bayang suaminya yang berasal dari kelas lebih tinggi dari dirinya.
Pramoedya seolah menegaskan bahwa feodalisme Jawa selayaknya dihapuskan karena menciptakan kesenjangan sosial dan memperburuk kehidupan masyarakat. Dalam sebuah dialog dinyatakan, “Ya, orang kebanyakan seperti sahaya inilah, bekerja berat tapi makan pun hampir tidak.” (Gadis Pantai, hal. 54).
Kesenjangan sosial tersebut berdampak buruk pada psikologi tokoh dan status sosialnya di masyarakat, seperti dalam cuplikan dialog: Bapak? mengapa bapak segan menatap aku? anaknya sendiri. dan bumi di bawah kakinya terasa goyah. Kampung nelayan ini telah kehilangan perlindungan yang meyakinkan baginya. Sedang di belakang terus mengikuti mata-mata Bendoro yang tak dapat dikebaskan dari bayang-bayangnya. Ia masih kenal benar siapa-siapa yang menjemputnya—tetangga-tetangganya. Ada yang dulu menjewernya. Ada yang mendongenginya. Ada yang pernah mengangkat dan menggendongnya sewaktu habis jatuh dari pohon jambu. ada yang sering dibantunya menunggu dapur. Dan ada bocah-bocah kecil yang digendongnya dulu. Antara sebentar ia dengar kata Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro! Bendoro Putri! kata itu mendengung memburu. Mengiris dan meremas di dalam otaknya. Bendoro! Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro Putri! Dan berpasang-pasang mata yang menunduk hormat bila tertatap olehnya seakan menyindirnya: semu, semu, semua semu! (Gadis Pantai, hal. 165)
Sesuai dengan tujuan aliran realisme sosialis, novel ini memperjuangkan kelas proletar—yang diwakili oleh tokoh gadis pantai, agar tidak terdapat lagi masyarakat berkelas-kelas. Novel ini di samping mencerminkan kenyatan sosial pada masa itu di Jawa juga menyuarakan perlawanan terhadap kelas tinggi dalam masyarakat Jawa—dalam novel ini diwakili oleh tokoh Bendoro.




3.      Analisis cerita
Dari novel Gadis Pantai, didapatkan unsur sosial budaya yang melatarbelakangi penciptaannya, yaitu tentang sistem sosial dalam budaya masyarakat Jawa pada masa novel ini ditulis. Masyarakat Jawa terbagi menjadi tiga tipe yang mencerminkan organisasi moral kebudayaan, yaitu kebudayaan abangan, santri, dan priyayi. Kaum abangan adalah penganut kejawen yang sangat percaya akan adanya makhluk halus yang mempengaruhi kehidupan manusia,  seperti dalam praktek-praktek pengobatan, santet, magi dan  magis.
Yang kedua yaitu Santri, suatu golongan yang menjalankan kaidah-kaidah agama Islam secara murni. Golongan ini biasanya terisi dari kalangan pedagang dan sebagian kecil petani.
            Sedangkan golongan priyayi adalah mereka yang kebangsawanannya dimiliki secara turun-temurun. Mereka tidak menekankan diri pada elemen animistik milik para abangan, elemen keIslaman yang biasa dilakukan oleh para santri.  Namun mereka lebih menitikberatkan kepada elemen-elemen Hinduisme yang secara luas dihubungkan dengan unsur-unsur birokratis.
            Priyayi memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan orang kebanyakan, mereka hidup berkecukupan, seperti terlihat dari cuplikan dialog: “Ya, orang kebanyakan seperti sahaya inilah, bekerja berat tapi makan pun hampir tidak.” (gadis Pantai, hal. 54), dan : ”Bagi orang sudah tua seperti sahaya ini, siapa yang beri makan di sana? semua pada hidup susah.” (Gadis Pantai, hal. 55). Kemudian pada cuplikan dialog: ”Tambah mulia seseorang, Mas Nganten, tambah tak perlu ia kerja. Hanya orang kebanyakan yang kerja.” (Gadis Pantai, hal. 68).
Serta  cuplikan dialog:
”Kalau ada nasib, Bapak suka jadi priyayi?”
”Itulah yang dicitakan setiap orang.”
”Kalau Bapak tahu bagaimana mereka hidup di sana...”
”Setidak-tidaknya mereka tak mengadu untung setiap hari. Setidak-tidaknya mereka tidak berlumuran kotor setiap hari.” (Gadis Pantai, hal 181)
Dan tugas bagi orang yang kedudukannya lebih rendah adalah mengabdi kapada para priyayi tersebut, seperti dalam cuplikan dialog:
”Apa salahku?”
”Salah Mas Nganten seperti sahaya, salah kita, berasal dari orang kebanyakan.”
”Lantas Mbok, lantas?”
”Kita sudah ditakdirkan oleh orang yang kita puji dan yang kita sembah buat jadi pasangan orang rendahan. Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”
”Aku ini, Mbok, aku ini orang apa? rendahan? atasan?”
”Rendahan Mas Nganten, maafkan sahaya, tapi menumpang di tempat atasan.”
”Jadi apa yang mesti aku perbuat?”
”Ah, beberapa kali sudah sahaya katakan. Mengabdi, Mas Nganten. Sujud, takluk sampai tanah pada Bendoro...” (Gadis Pantai, hal. 99)
            Para priyayi menganggap, orang dengan kelas lebih rendah dari dirinya adalah miliknya sepenuhnya. Oleh karena itu, ia berhak mengatur kehidupan mereka. Seperti dalam cuplikan dialog: ”Kau milikku. Aku yang menentukan apa yang kau boleh dan tidak boleh, harus dan mesti kau kerjakan. Diamlah kau sekarang. Malam semakin larut.” (Gadis Pantai, hal. 136)
Oleh karena itu, priyayi harus dihormati dan diperlakukan seolah-olah  raja oleh para kelas yang lebih rendah, hal ini tercermin dalam cuplikan dialog: ”Pada aku ini, Mas Nganten tak boleh sebut diri sahaya. Itu kata hina bagi penyebut di hadapan dan untuk Mas Nganten.” (Gadis Pantai, hal. 27). Dan pada cuplikan dialog ”Tidak mungkin orang kampung memerintah anak priyayi. Tidak bisa. Tidak mungkin.” (Gadis Pantai, hal. 127)
            jika seorang priyayi menikah dengan gadis dari tingkat kelas yang lebih rendah, maka gadis itu belum dianggap sebagai istri sahnya. Priyayi itu masih dianggap perjaka jika belum menikah dengan wanita dari kalangan yang sederajat dengannya. Seperti terlihat dari cuplikan dialog: ”Jadi Mas Nganten tahu siapa sahaya. Seseorang yang kebangsawanannya lebih tinggi dari Bendoro telah perintahkan sahaya kemari. Sudah waktunya Bendoro kawin benar-benar dengan seorang gadis yang benar-benar bangsawan juga. Di Demak sudah menunggu. Siapa saja boleh Bendoro ambil, sekalipun sampai empat.” (Gadis Pantai, hal. 132)
lalu:
”Perjaka? jadi aku ini apanya?”
”Apa mesti sahaya katakan? Bendoro masih perjaka sebelum beristrikan wanita berbangsa.” (Gadis Pantai, hal. 155).

Pada cerita Gadis Pantai ini ditulis dengan teknik naratif ”orang ketiga mahatahu”. Karena dalam novel tersebut narator berada diluar cerit, tetapi mengetahui hampir semua hal makan pikiran, perasaan, perbuatan tokoh-tokoh dalam crita serta lingkungan yang ada disekitarnya. Karena ia tidak terikat pada satu tokoh maka ia dapat bergerak bebas masuk pada diri tokoh-tokoh yang lain, juga permasalahan yang ada.
Narator membuka tabir antara Bendoro dan rakyat dari kampung nelayan yang miskin. Ia memberikan sebuah kritikan terhadap kesenjangan yang terjadi diantara mereka. Kriktikan terhadap anggapan bahwa bangsa priyayi adalah orang-orang suci yang dekat dengan Tuhan, dengan agama, dan orang miskin adalah orang-orang hina yang dikutuk-Nya. Narator juga menggambarkan perbedaan dalam strata sosial, terutama dalam perihal pangan dan makan. Orang seperti Bendoro makan dengan gaya Eropa, baik makanannya maupun tata cara makannya. Mereka mengikuti orang barat, karena mereka beranggapan orang barat itu manusia yang berderajat tinggi.

Tak perlulah kalau kau tak suka. Aku tahu kampung-kampung sepanjang pantai sini. Sama saja, sepuluh tahun yang lalu aku juga pernah datang ke kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah beribadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama.dimana banyak terapat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rejeki mereka tidak lancer, mereka miskin. (Gadis Pantai. hal : 41)
Novel ini nantinya akan menceritakan kehidupan Gadis Pantai ketika ia menjadi Mas Nganten dan hingga akhirnya dicampakkan begitu saja oleh Bendoro setelah ia melahirkan seorang bayi perempuan, kerangka sikap narator diatas sekaligus kerangka sikapnya terhadap feodalisme Jawa yang tergambar pada sosok Bendoro. Sangat jelas sekali, narator berpihak kepada Gadis Pantai sebagai rakyat kecil yang merangkak diantara feodalisme Jawa. Kepasrahan rakyat bawah dalam menerima nasibnya sebagai kutukan Tuhan.

4.      Penutup
Novel ini berkisah mengenai relasi antara mas nganten dengan seorang pembesar yang “memeliharanya”. Pembesar atau Ndoro merupakan orang Jawa yang berdarah biru yang memiliki korelasi dengan pemerintah Belanda. Novel ini sangat kritis membicarakan feodalisme Jawa pada masa itu. Sebuah novel yang mungkin mewakilkan suara rakyat jelata, rakyat dari golongan bawah dalam sistem feodalisme Jawa, para priyayi yang bercokol di kaki-kaki pemerintah Belanda. Perbedaan yang sangat memilukan, bahwa status sosial sangatlah penting di masa itu. Golongan priyayi (termasuk kaum bendoro) adalah orang-orang suci yang sulit untuk disentuh, mereka berhak memperlakukan apa saja terhadap rakyat bawahnya, termasuk mengawini anak-anak gadis mereka dijadikan sebagai Mas Nganten yang akhirnya dicampakkan begitu saja.


Novel ini menggunakan teknik penceritaan orang ketiga mahatahu yang memungkinkan narator tidak terikat pada dunia cerita dan dapat bergerak bebas di dalamnya. Gerakan itu antara lain dinyatakan dalam penempatan posisi narator terhadap dunia yang ada di dalam novel tersebut. Tokoh-tokoh dalam novel ini, terutama tokoh yang berasal dari rakyat biasa, memperlihatkan sikap mereka yang menentang dan akhirnya menerima begitu saja dalam menghadapi sikap dan kuasa para pembesar Jawa, yang akhirnya membawa kesengsaraan dan kenestapaan bagi mereka, dan tiada dampak sedikitpun bagi para pembesar karena bagi para bendoro rakyat biasa adalah orang golongan bawah yang tak sederajat dengan mereka. Bagi para bendoro (priyayi), rakyat jelata adalah budak yang dapat mereka perintah dan perlakukan semaunya, semau mereka.

              Dalam novel ini pun terdapat pula isu-isu gender di dalamnya. Penindasan laki-laki terhadap perempuan, pengekangan hak ibu terhadap anak dan tak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah tersebut di dalam sistem feodalisme Jawa pada masa itu. Laki-laki yang bebas berpoligami, dan perempuan dijadikan budak nafsu baginya. Sang Bendoro bebas mengambil gadis manapun, siapapun dari kelas bawah dan menjadikannya Mas Nganten, Bendoro pun berkuasa mencampakkannya begitu saja dan mencari gadis lain untuk dijadikannya Mas Nganten, selama itu pula Bendoro dianggap masih perjaka sebelum ia menikahi gadis yang sederajat atau sekelas dengannya. Dan perilaku itu terus berlangsung hingga ia menikahi seorang gadis yang sederajat dengannya. Pada akhirnya pula, ketika para Mas Nganten melahirkan seorang anak, ia langsung menceraikannya dan mengambil anaknya itu. Ia memisahkan ibu dengan anak. Terlebih lagi, anggapan rakyat feodal bahwa anak laki-laki adalah anak yang bisa dibanggakan dan anak yang bisa meneruskan kekuasaannya, sehingga anak perempuan itu seperti manusia yang menyusahkan, tak berdaya dan tak dapat dibanggakan. Hal ini terlihat dari sikap sang Bendoro ketika ia tahu bahwa Gadis Pantai melahirkan seorang bayi perempuan, betapa murkanya ia. Secara struktural, dalam relasi-relasi konkret antar tokoh, novel ini cenderung menempatkan perempuan dalam posisi yang inferior di hadapan laki-kali. Tentu saja, dari situ, novel ini megnandung banyak gagasan mengenai emansipasi perempuan, pembebasan perempuan dari penindasan budaya yang patriarkis.



DAFTAR PUSTAKA

Toer, Pramoedya Ananta. 2006. Gadis Pantai. Jakarta: Lentera Dipantara





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar